D Cerita mahasiswa
Indonesia di
Aussie. Nyataa... Suatu pagi, kami
menjemput
... seseorang klien di bandara. Orang itu sudah tua, kisaran 60
tahun. Si bapak adalah pengusaha
asal Singapura,
dengan logat bicara gaya melayu
dan english, beliau menceritakan
pengalaman-pengalaman hidupnya kepada kami yang
masih muda. Beliau berkata, "Your
country is
so rich!" Ah, biasa banget denger
kata-kata itu. Tapi tunggu dulu.
"Indonesia doesn't need the world, but the world needs
Indonesia," lanjutnya. "Everything
can be found here in
Indonesia. You don't need the
world." Mudah saja, Indonesia
paru-paru dunia. Tebang saja hutan di
Kalimantan, dunia pasti kiamat.
Dunia yang butuh Indonesia!
"Singapura is nothing, we can't
be rich without Indonesia."
"500.000 orang Indonesia berlibur ke Singapura tiap bulan. Bisa
terbayang uang yang masuk ke
kami, apartemen-apartemen
terbaru kami yang beli orang-
orang Indonesia, tidak peduli
harganya selangit, tetapi laku keras. Lihatlah rumah sakit kami,
orang
Indonesia semua yang berobat.
Lalu, kalian tahu bagaimana
kalapnya pemerintah kami ketika
asap hutan Indonesia masuk? Ya, benar-benar panik. Sangat terasa,
we are
nothing. Kalian tahu kan kalo
Agustus
kemarin dunia krisis beras,
termasuk di Singapura dan Malaysia? Kalian di Indonesia
dengan mudah mendapatkan
beras. Lihatlah negara kalian, air
bersih
di mana-mana, lihatlah negara
kami, air bersih pun kami beli dari Malaysia. Saya ke Kalimantan
pun dalam
rangka bisnis, karena pasirnya
mengandung
permata. Terlihat glitter saat
matahari bersinar. Penambang menjual hanya Rp 3000/
kg, untuk kemudian dijual ke
pabrik china. Si pabrik menjual
kembali seharga Rp 30.000/kg.
Saya lihat ini sebagai peluang.
Kalian sadar tidak kalau negara- negara lain selalu takut meng-
embargo Indonesia? Ya, karena
negara kalian memiliki segalanya.
Mereka takut kalau kalian menjadi
mandiri, oleh sebab itu tidak
diembargo. Harusnya KALIANLAH YG MENG-
EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI!
Belilah pangan dari petani-petani
kita sendiri, belilah tekstil
garmen dari pabrik-pabrik
sendiri. Tidak perlu impor klo bisa memproduksi sendiri. Jika kalian
bisa mandiri, bisa MENG-EMBARGO
DIRI SENDIRI,
INDONESIA WILL RULE THEWORLD!!" Please share ya biar
sampe ke seluruh bangsa Indonesia... #
http://Survey-Faq.com?ref=2402246
Thursday, December 1, 2011
Wednesday, November 30, 2011
HambaMU yang Miskin Harta tapi Dia Kaya Iman
Kisah ini terjadi ± tahun 1995, sudah cukup lama memang, namun
setiap ingin memasuki I’dul Adha saya selalu teringat dengan kejadian
yang pernah saya alami ini, dan sampai saat ini saya tidak pernah
melupakannya.
Awalnya saat saya sedang menjajakan
dagangan bersama teman (kami berempat waktu itu), kami mengeluh karena
sudah 3 hari kami berdagang baru 6 ekor yang terjual, tidak seperti
tahun sebelumnya,
biasanya sudah puluhan ekor laku terjual dan hari raya sudah didepan
mata (tinggal 2 hari lagi). Kami cukup gelisah waktu itu. Ketika sedang
berbincang salah
seorang teman mengajak saya untuk sholat ashar dan saya pun bersama
teman saya berangkat menuju masjid yang kebetulan dekat dengan tempat
kami berjualan.
Setelah selesai sholat, seperti biasa saya melakukan zikir dan doa.
Untuk saat ini doa saya fokuskan untuk dagangan saya agar Allah
memberikan kemudahan semoga kiranya dagangan saya laku/ habis terjual.
Setelah selesai saya dan teman kembali bergegas untuk kembali ke tempat
kami jualan, dari kejauhan kami melihat ditempat kami berjualan banyak
sekali orang disana dan terlihat teman kami yang berada disana
kesibukan demi melayani calon pembeli. Akhirnya saya dan teman saya
berlari untuk cepat membantu melayani teman kami. Alhamdulillah
pada saat itu sudah ada yang membeli beberapa ekor kambing. “Terima
kasih Ya Robb, Engkau telah mendengar dan menjawab doa kami”, Syukur
saya dalam hati.
Namun setelah semuanya terlayani dan keadaan kembali normal, saya melihat seorang ibu-ibu sedang memperhatikan
dagangan kami, seingat saya ibu ini sudah lama berada disitu, pada saat
kami sedang sibuk ibu ini sudah ada namun hanya memperhatikan kami bertransaksi. Saya tegur teman saya “Ibu itu mau beli ya ? dari tadi liatin dagangan terus, emang gak ditawarin ya ?, sepertinya
dari tadi udah ada disitu. Kayaknya Cuma liat-liat aja, mungkin lagi
nunggu bus kali. Jawab teman singkat. Memang sih kalau dilihat dari
pakaiannya sepertinya gak akan beli ( mohon maaf.. ibu itu berpakaian lusuh sambil menenteng payung lipat ditangan kanannya) kalau dilihat dari penampilannya tidak mungkin ibu itu ingin berqurban.
Namun saya coba hampiri ibu itu dan coba menawarkan. “Silahkan bu dipilih hewannya, ada niat untuk qurban ya bu ?”. Tanpa menjawab pertanyaan
saya, ibu itu langsung menunjuk, “Kalau yang itu berapa bang ?” Ibu itu
menunjuk hewan yang paling murah dari hewan yang lainnya. Kalau yang
itu harganya Rp. 600.000,- bu, jawab saya. Harga pasnya berapa bang ?,
gak usah tawar lagi ya bu… Rp. 500.000 deh kalau ibu mau. Fikir saya
memang dari harga segitu keuntungan
saya kecil, tapi biarlah khusus untuk ibu ini. “Uang saya Cuma ada 450
ribu, boleh gak”. Waduh… saya bingung, karena itu harga modal kami,
akhirnya saya berembug dengan teman yang lain. “Biarlah mungkin ini
jalan pembuka untuk dagangan kita, lagi pula kalau dilihat dari
penampilannya sepertinya bukan orang mampu, kasihan, hitung-hitung kita membantu niat ibu itu untuk berqurban”.
Sepakat kami berempat. “Tapi bawa sendiri ya.. ?” akhirnya si ibu tadi
bersedia, tapi dia minta diantar oleh saya dan ongkos bajaj-nya dia
yang bayar dirumah. Setelah saya dikasih alamat rumahnya si ibu itu
langsung pulang dengan jalan kaki. Saya pun berangkat.
Ketika sampai di rumah ibu tersebut. Subhanallah….. Astaghfirullaah….. Allahu Akbar, merinding saya, terasa mengigil seluruh badan saya demi melihat keadaan rumah ibu tsb.
Ibu itu hanya tinggal bertiga dengan orang tuanya (ibunya) dan satu
orang anaknya di rumah gubuk dengan berlantai tanah dan jendela dari
kawat. Saya tidak melihat tempat tidur/
kasur, yang ada hanya dipan kayu beralas tikar lusuh. Diatas dipan
sedang tertidur seorang perempuan tua kurus yang sepertinya dalam
kondisi sakit. “Mak … bangun mak, nih liat Sumi bawa apa” (oh ternyata
ibu ini namanya Sumi), perempuan tua itu terbangun dan berjalan keluar.
“Ini ibu saya bang” ibu itu mengenalkan
orang tuanya kepada saya. Mak Sumi udah beliin kambing buat emak
qurban, ntar kita bawa ke Masjid ya mak. Orang tua itu kaget namun dari
wajahnya terlihat senang dan bahagia, sambil mengelus-elus kambing orang tua itu berucap, Allahu Akbar, Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga emak qurban.
“Nih bang duitnya, maaf ya kalau saya nawarnya telalu murah, saya hanya
kuli cuci, saya sengaja kumpulkan uang untuk beli kambing yang mau saya
niatkan buat qurban ibu saya. Aduh GUSTI……. Ampuni dosa hamba, hamba
malu berhadapan
dengan hambaMU yang satu ini. HambaMU yang Miskin Harta tapi dia kaya
Iman. Seperti bergetar bumi ini setelah mendengar niat dari ibu ini.
Rasanya saya sudah tidak sanggup lagi berlama- lama berada disitu. Saya
langsung pamit meninggalkan kebahagiaan penuh keimanan mereka bertiga.
“Bang nih ongkos bajajnya.!,
panggil si Ibu, “sudah bu cukup, biar ongkos bajaj saya yang bayar.
Saya cepat pergi sebelum ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah,
karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukan saya dengan hambaNYA yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya.
http://Survey-Faq.com?ref=2402246
Dikisahkan oleh Muhamad Taufiq Asgar
setiap ingin memasuki I’dul Adha saya selalu teringat dengan kejadian
yang pernah saya alami ini, dan sampai saat ini saya tidak pernah
melupakannya.
Awalnya saat saya sedang menjajakan
dagangan bersama teman (kami berempat waktu itu), kami mengeluh karena
sudah 3 hari kami berdagang baru 6 ekor yang terjual, tidak seperti
tahun sebelumnya,
biasanya sudah puluhan ekor laku terjual dan hari raya sudah didepan
mata (tinggal 2 hari lagi). Kami cukup gelisah waktu itu. Ketika sedang
berbincang salah
seorang teman mengajak saya untuk sholat ashar dan saya pun bersama
teman saya berangkat menuju masjid yang kebetulan dekat dengan tempat
kami berjualan.
Setelah selesai sholat, seperti biasa saya melakukan zikir dan doa.
Untuk saat ini doa saya fokuskan untuk dagangan saya agar Allah
memberikan kemudahan semoga kiranya dagangan saya laku/ habis terjual.
Setelah selesai saya dan teman kembali bergegas untuk kembali ke tempat
kami jualan, dari kejauhan kami melihat ditempat kami berjualan banyak
sekali orang disana dan terlihat teman kami yang berada disana
kesibukan demi melayani calon pembeli. Akhirnya saya dan teman saya
berlari untuk cepat membantu melayani teman kami. Alhamdulillah
pada saat itu sudah ada yang membeli beberapa ekor kambing. “Terima
kasih Ya Robb, Engkau telah mendengar dan menjawab doa kami”, Syukur
saya dalam hati.
Namun setelah semuanya terlayani dan keadaan kembali normal, saya melihat seorang ibu-ibu sedang memperhatikan
dagangan kami, seingat saya ibu ini sudah lama berada disitu, pada saat
kami sedang sibuk ibu ini sudah ada namun hanya memperhatikan kami bertransaksi. Saya tegur teman saya “Ibu itu mau beli ya ? dari tadi liatin dagangan terus, emang gak ditawarin ya ?, sepertinya
dari tadi udah ada disitu. Kayaknya Cuma liat-liat aja, mungkin lagi
nunggu bus kali. Jawab teman singkat. Memang sih kalau dilihat dari
pakaiannya sepertinya gak akan beli ( mohon maaf.. ibu itu berpakaian lusuh sambil menenteng payung lipat ditangan kanannya) kalau dilihat dari penampilannya tidak mungkin ibu itu ingin berqurban.
Namun saya coba hampiri ibu itu dan coba menawarkan. “Silahkan bu dipilih hewannya, ada niat untuk qurban ya bu ?”. Tanpa menjawab pertanyaan
saya, ibu itu langsung menunjuk, “Kalau yang itu berapa bang ?” Ibu itu
menunjuk hewan yang paling murah dari hewan yang lainnya. Kalau yang
itu harganya Rp. 600.000,- bu, jawab saya. Harga pasnya berapa bang ?,
gak usah tawar lagi ya bu… Rp. 500.000 deh kalau ibu mau. Fikir saya
memang dari harga segitu keuntungan
saya kecil, tapi biarlah khusus untuk ibu ini. “Uang saya Cuma ada 450
ribu, boleh gak”. Waduh… saya bingung, karena itu harga modal kami,
akhirnya saya berembug dengan teman yang lain. “Biarlah mungkin ini
jalan pembuka untuk dagangan kita, lagi pula kalau dilihat dari
penampilannya sepertinya bukan orang mampu, kasihan, hitung-hitung kita membantu niat ibu itu untuk berqurban”.
Sepakat kami berempat. “Tapi bawa sendiri ya.. ?” akhirnya si ibu tadi
bersedia, tapi dia minta diantar oleh saya dan ongkos bajaj-nya dia
yang bayar dirumah. Setelah saya dikasih alamat rumahnya si ibu itu
langsung pulang dengan jalan kaki. Saya pun berangkat.
Ketika sampai di rumah ibu tersebut. Subhanallah….. Astaghfirullaah….. Allahu Akbar, merinding saya, terasa mengigil seluruh badan saya demi melihat keadaan rumah ibu tsb.
Ibu itu hanya tinggal bertiga dengan orang tuanya (ibunya) dan satu
orang anaknya di rumah gubuk dengan berlantai tanah dan jendela dari
kawat. Saya tidak melihat tempat tidur/
kasur, yang ada hanya dipan kayu beralas tikar lusuh. Diatas dipan
sedang tertidur seorang perempuan tua kurus yang sepertinya dalam
kondisi sakit. “Mak … bangun mak, nih liat Sumi bawa apa” (oh ternyata
ibu ini namanya Sumi), perempuan tua itu terbangun dan berjalan keluar.
“Ini ibu saya bang” ibu itu mengenalkan
orang tuanya kepada saya. Mak Sumi udah beliin kambing buat emak
qurban, ntar kita bawa ke Masjid ya mak. Orang tua itu kaget namun dari
wajahnya terlihat senang dan bahagia, sambil mengelus-elus kambing orang tua itu berucap, Allahu Akbar, Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga emak qurban.
“Nih bang duitnya, maaf ya kalau saya nawarnya telalu murah, saya hanya
kuli cuci, saya sengaja kumpulkan uang untuk beli kambing yang mau saya
niatkan buat qurban ibu saya. Aduh GUSTI……. Ampuni dosa hamba, hamba
malu berhadapan
dengan hambaMU yang satu ini. HambaMU yang Miskin Harta tapi dia kaya
Iman. Seperti bergetar bumi ini setelah mendengar niat dari ibu ini.
Rasanya saya sudah tidak sanggup lagi berlama- lama berada disitu. Saya
langsung pamit meninggalkan kebahagiaan penuh keimanan mereka bertiga.
“Bang nih ongkos bajajnya.!,
panggil si Ibu, “sudah bu cukup, biar ongkos bajaj saya yang bayar.
Saya cepat pergi sebelum ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah,
karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukan saya dengan hambaNYA yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya.
http://Survey-Faq.com?ref=2402246
Dikisahkan oleh Muhamad Taufiq Asgar
Wednesday, November 23, 2011
Hidup Adalah Proyek Yang Kau Kerjakan Sendiri
Seorang tukang kayu yang sudah tua
dan tidak lagi mampu bekerja karena alasan fisik, bermaksud pensiun dari
pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi. Ia menyampaikan
keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tidak
lagi bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya untuk menghidupi
keluarganya. Namun keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin
beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian
bersama istri dan keluarganya.
Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya.
Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan persaan malas dan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Dan saat membangun rumah pesanan majikannya itu, ia menggunakan bahan-bahan dengan kualitas yang sangat rendah. Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah dengan kualitas yang baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.
Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. "Ini adalah rumahmu," katanya, "hadiah dari kami."
Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.
Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.
Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan. Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi. Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan masuk dalam barisan kemenangan.
Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya.
Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan persaan malas dan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Dan saat membangun rumah pesanan majikannya itu, ia menggunakan bahan-bahan dengan kualitas yang sangat rendah. Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah dengan kualitas yang baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.
Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. "Ini adalah rumahmu," katanya, "hadiah dari kami."
Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.
Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.
Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan. Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi. Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan masuk dalam barisan kemenangan.
Label:
Enlightment
Friday, November 18, 2011
Berdoalah Dengan Doa Yang Mengancam
Saat itu, disebuah gurun pasir yang gersang lagi panas dimana yang tumbuh hanya pohon-pohon kecil berduri, selaksa pasukan dengan senjata lengkap siap melumat 313 orang dengan peralatan seadanya.
Sebuah perang besar yang menjadi titik tolak kebangkitan umat Islam segera akan terjadi. sementara itu, di dalam sebuah tenda kecil, sang pemimpin agung itu tampak begitu khusyuk berdoa,” Ya Alloh, jika Engkau tidak menolong kami, maka engkau tidak akan disembah selamanya, kecuali jika engkau berkehendak untuk tidak disembah selamanya.” Doa ini begitu tulus, mengalir dengan ikhlas dari sela-sela bibir mulia junjungan Nabiyullah Muhammad Saw dibarengi dengan isak tangis yang menggetarkan jiwa. Doa ini begitu mengancam namun lahir dari gemuruh keimanan yang kokoh sehingga Sahabat sekaligus mertua beliau, Abu Bakar Ash Shidiq menghampiri beliau lalu berkata,” sudahlah wahai Rasulullah, aku yakin Allah tidak akan pernah mengingkari janjiNya.”
Doa yang diutarakan dengan landasan keimanan dan perasaan akan kelemahan diri dari sang Nabi ini langsung mengguncang Arsy. Tidak ada nada kesombongan dalam doa itu, tidak ada aroma su’ul adab yang tergambar dari rintihan itu. Doa itu beliau panjatkan sebagai wujud betapa butuhnya beliau akan intervensi Tuhannya, Allah Rabbul Izzah. Beliau merasa bahwa usaha beliau dengan segenap pasukannya yang berjumlah 313 itu tidak akan pernah berhasil tanpa campur tangan Allah. Dan Allahpun merespon permohonan Nabi terkasihnya tersebut dengan mengirimkan 5000 pasukan langit untuk membantu kaum muslimin yang berperang demi agamanya.
Sering kali kita begitu mengabaikan dan meremehkan kekuatan doa. Doa hanyalah dianggap sebagai pelengkap kegiatan dan pekerjaan yang telah dilakukannya, dan biasa dilantunkan dengan tanpa makna. Padahal doa adalah bagian dari ikhtiyar yang terpenting. Bahkan profesor Quraish Shihab pernah menyampaikan bahwa doa adalah wujud pengakuan dari kedhoifan kita sekaligus pengakuan akan kemahaan Allah, apabila kita melakukan suatu pekerjaan yang dilandasi dengan permohonan tulus kepada Allah, maka Allah akan membantu pekerjaan kita, dan setiap pekerjaan yang dibantu oleh Allah, maka hasilnya pasti maksimal.
Berdoalah……bermohonlah kepada Allah, Rabb kita dengan doa yang mengancam yang lahir dari gelora iman, bukan doa yang menantang sebagaimana pernah dilakukan oleh Abu Jahl ketika berseru dengan pongahnya,” Ya Allah, jika Muhammad memang benar, hujanilah kami dengan batu dari langit.”
Semoga Allah selalu mengijabah doa-doa kita Amiin.
Sebuah perang besar yang menjadi titik tolak kebangkitan umat Islam segera akan terjadi. sementara itu, di dalam sebuah tenda kecil, sang pemimpin agung itu tampak begitu khusyuk berdoa,” Ya Alloh, jika Engkau tidak menolong kami, maka engkau tidak akan disembah selamanya, kecuali jika engkau berkehendak untuk tidak disembah selamanya.” Doa ini begitu tulus, mengalir dengan ikhlas dari sela-sela bibir mulia junjungan Nabiyullah Muhammad Saw dibarengi dengan isak tangis yang menggetarkan jiwa. Doa ini begitu mengancam namun lahir dari gemuruh keimanan yang kokoh sehingga Sahabat sekaligus mertua beliau, Abu Bakar Ash Shidiq menghampiri beliau lalu berkata,” sudahlah wahai Rasulullah, aku yakin Allah tidak akan pernah mengingkari janjiNya.”
Doa yang diutarakan dengan landasan keimanan dan perasaan akan kelemahan diri dari sang Nabi ini langsung mengguncang Arsy. Tidak ada nada kesombongan dalam doa itu, tidak ada aroma su’ul adab yang tergambar dari rintihan itu. Doa itu beliau panjatkan sebagai wujud betapa butuhnya beliau akan intervensi Tuhannya, Allah Rabbul Izzah. Beliau merasa bahwa usaha beliau dengan segenap pasukannya yang berjumlah 313 itu tidak akan pernah berhasil tanpa campur tangan Allah. Dan Allahpun merespon permohonan Nabi terkasihnya tersebut dengan mengirimkan 5000 pasukan langit untuk membantu kaum muslimin yang berperang demi agamanya.
Sering kali kita begitu mengabaikan dan meremehkan kekuatan doa. Doa hanyalah dianggap sebagai pelengkap kegiatan dan pekerjaan yang telah dilakukannya, dan biasa dilantunkan dengan tanpa makna. Padahal doa adalah bagian dari ikhtiyar yang terpenting. Bahkan profesor Quraish Shihab pernah menyampaikan bahwa doa adalah wujud pengakuan dari kedhoifan kita sekaligus pengakuan akan kemahaan Allah, apabila kita melakukan suatu pekerjaan yang dilandasi dengan permohonan tulus kepada Allah, maka Allah akan membantu pekerjaan kita, dan setiap pekerjaan yang dibantu oleh Allah, maka hasilnya pasti maksimal.
Berdoalah……bermohonlah kepada Allah, Rabb kita dengan doa yang mengancam yang lahir dari gelora iman, bukan doa yang menantang sebagaimana pernah dilakukan oleh Abu Jahl ketika berseru dengan pongahnya,” Ya Allah, jika Muhammad memang benar, hujanilah kami dengan batu dari langit.”
Semoga Allah selalu mengijabah doa-doa kita Amiin.
Label:
Indahnya Islam
Wednesday, October 12, 2011
Kuasai, Jangan Cintai
Kuasai, jangan cintai. Demi kianlah semestinya umat Islam memperlakukan dunia dan seisinya. Sebab, Islam bukan ajaran yang bersifat dikotomi. Di ma na untuk meraih rida Tuhan harus bersikap antidunia dan melulu meng isi waktu dengan ibadah ritual semata.
Justru Islam mewajibkan seluruh umatnya untuk tampil ke gelanggang, mengatur dunia (menguasai) de ngan berpedoman dan berprinsip pada aturan main Tuhan (syariah). Seperti itulah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW beserta para sahabatnya.
Seperti kita ketahui dalam sejarah peradaban Islam, hampir semua sektor kehidupan dikuasai oleh umat Islam. Sebut saja sektor ekonomi, yang kini menjadi sektor utama dalam kehidupan kita. Beberapa saat setibanya di Kota Madinah, Abdurrahman bin Auf langsung menuju pasar dan berniaga di dalamnya.
Dalam beberapa tempo yang tidak begitu lama, Abdurrahman bin Auf telah menguasai pasar Madinah yang sebelumnya dikuasai oleh Yahudi. Artinya, dengan spirit iman, Abdurrahman bin Auf mampu menguasai sektor ekonomi yang dengan cara seperti itu, ia bisa berkontribusi harta dalam perjuangan jihad fisabilillah.
Akhirnya, Abdurrahman bin Auf menjadi saudagar yang sangat kaya pada zamannya. Sampai-sampai ia pernah berinfak kepada umat Islam sekitar tujuh ratus ekor unta beserta seluruh muatannya.
Namun, Abdurrahman bin Auf tidak sama dengan Tsa’la bah, yang jadi kufur karena dunia. Awalnya Tsa’labah hidup miskin, kemudian sukses dengan usaha ternak kambingnya, lalu menjadi angkuh dan sombong karena kekayaannya. Bahkan, ia berani menolak membayar zakat.
Beberapa abad sebelum Abdurrahman bin Auf, di zaman Nabi Musa hidup seorang saudagar yang sangat kaya raya, Qarun namanya. Kunci gudang harta kekayaannya saja memer lukan satu ekor unta untuk meng angkatnya.
Tetapi, Qarun bukan saudagar yang beriman, ia angkuh lagi sombong. Maka, ketika ia berbuat se perti itu dan menolak mengakui keberadaan Allah SWT yang Mahakaya, lalu mengklaim bahwa apa yang dimilikinya itu sebagai hasil murni kepandaiannya. Allah pun menenggelamkan Qarun ke dalam bumi beserta seluruh harta kekayaannya.
Dunia adalah sarana menuju akhirat. “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi …” (QS 28: 77).
Jadi, Muslim yang baik adalah yang mampu menguasai dunia untuk agama dan akhiratnya. Bukan untuk diri dan keluarganya semata. Lihatlah bagaimana Rasulullah juga ahli dalam dunia bisnis dan niaga. Juga perhatikanlah bagaimana Sayidina Ali dalam perang, namun juga paling tekun dalam ibadah.
Perhatikan pula bagaimana para nabi yang lain juga ahli dalam bidang keduniaan. Nabi Daud ahli metalurgi, Nabi Nuh ahli perkapalan, Nabi Musa ahli peternakan, dan Nabi Isa ahli pengobatan serta Nabi Yusuf ahli perekonomian.
Semua ini menunjukkan bahwa umat Islam harus unggul di segala bidang dengan tetap menjadikan akhirat sebagai orientasi utama bukan dunia yang diutamakan, apalagi dikuasai untuk dicintai. Wallahu a'lam.
Label:
Indahnya Islam
Vanni, 'Anak Band' Filipina Yang Jatuh Hati Pada Islam
MANILA - Ia minta dipanggil Vanni saja. Usianya kini 29 tahun. Sejak kecil, ia menjadi anggota tetap paduan suara di gerejanya, menjadi anggota Parish Youth Ministry, dan kemudian bermusik.
Menginjak remaja, lajang yang kini tinggal di Manila ini bercita-cita menjadi pastor. Ia giat mendalami agama dan banyak berdiskusi dengan pastor senior, antara lain Pastor Benjie. Dari dia pula, ia mengenal Islam pertama kalinya. "Bapa Benjie menceritakan bahwa dalam Islam memuliakan Yesus dan juga ibunya, maria," ujarnya.
Menjelang lulus sekolah menengah, ia semakin banyak menghabiskan waktu di gereja. Ia bulat bercita-cita sebagai pelayan Tuhan.
Namun, ia mengaku, tanda tanya muncul kemudian. "Mengapa dalam kepercayaan Katolik dan juga Kristen, kami lebih banyak bicara soal Yesus? Mengapa bukan Yaweh, Sang pencipta?" ujarnya. Ia berhenti bertanya karena tak ada jawaban yang memuaskannya.
Suatu hari, ia terlibat pembicaraan dengan drummer di band yang dipimpinnya. Sang drummer baru balik Islam, bahasa Filipina untuk orang yang memasuki agama Islam. "Saya tertawa ketika dia bilang alasan kepindahan keyakinannya karena dia mulai kehilangan kepercayaan pada Yesus," ujarnya.
Sang teman, tak menceritakan lebih jauh soal itu, dengan alasan beragama adalah soal keyakinan pribadi.
Vanni yang penasaran, mencari jawabannya sendiri. ia meminjam buku-buku keislaman dari pegawainya yang beragama Islam. Ia juga membeli dua buku yang menurutnya 'sangat mencerahkan', yaitu Christ in Islamkarya Shaykh Deedat dan Islam in Focus, karya Hammudah Abdalati.
Seumur hidupnya bertanya soal Tuhan, baru dalam buku itulah ia menemukan jawaban. Ia makin giat menggali kandungan Islam. Hingga di satu titik, ia berpendapat sama dengan temannya yang lebih dulu berislam.
Seumur hidupnya bertanya soal Tuhan, baru dalam buku itulah ia menemukan jawaban. Ia makin giat menggali kandungan Islam. Hingga di satu titik, ia berpendapat sama dengan temannya yang lebih dulu berislam.
Ibunya berduka saat ia mengemukakan keinginannya untuk masuk Islam. Teman-temannya juga mencemoohnya. Bahkan, utusan gereja dikirim padanya khusus untuk menyadarkannya. "Namun saya bilang pada mereka, 'Jika kalian bisa menjawab dengan memuaskan pertanyaan saya, maka saya akan menghentikan niat saya'," ujarnya. Mereka semua menggeleng dan pulang.
Apa yang ditanyakannya? Vanni hanya melontarkan satu pertanyaan, "Apakah Yesus pernah mengklaim dirinya Tuhan di hadapan para jamaahnya?"
Ia bulat berislam. Demi menghindari gejolak, ia terbang ke Dubai, menemui sepupunya yang telah lebih dulu menjadi Muslim. Di kota itu, ia bersyahadat di depan ulama setempat yang berdarah Filipina.
"Saya berislam tanggal 23 Mei 2008 setelah hampir setahun persis saya mempelajari Islam," katanya, yang mengaku masih belajar Islam antara lain melalui situs Islamweb.net.
dikutip dari republika.co.id
Label:
Indahnya Islam
Wednesday, September 21, 2011
Muadz bin Jabal: Dai Muda yang Kaya Raya dan Lembut Hati
Muadz bin Jabal dai muda yang kaya raya dan lembut hati adalah seorang pemuda Anshar teladan, termasuk golongan Anshar yang pertama masuk Islam dan turut serta dalam baiatul Aqabah dua. Kepandaian dan kepahamannya dalam ilmu agama diakui oleh banyak sahabat, tak terkecuali sang pemimpin Rasulullah SAW yang memberikan testimoni menyejarah : “sepandai-pandainya umatku dalam masalah halal dan haram adalah Muadz bin Jabal”, bahkan di riwayat yang lain disebutkan Muadz adalah pemimpin para ulama di akhirat nanti.
Karena kefaqihannya inilah Muadz pun dipercaya menjadi duta dakwah di Yaman. Sebuah amanah dan tugas berat menanti di sana, menyebarkan Islam dengan benar sesuai ajaran Rasulullah SAW. Tak heran jika di awal keberangkatan Muadz ke Yaman, serangkaian fit and proper test pun dijalankan oleh Rasulullah SAW. Maka ketika Muadz sukses menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan begitu cerdas dan elegan, wajah Rasulullah SAW pun berseri-seri dan bertutur lugas : “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridhai oleh Rasulullah . . . .”
Di Yaman selain berdakwah menyebarkan dan mengajarkan Islam, Muadz bin Jabal juga berdagang sebagaimana para sahabat lainnya. Karena kepandaian dan ketekunannya pulalah, maka ia berhasil meningkatkan omset dagangnya dan berubah menjadi pribadi yang kaya raya, santun dan faqih. Ketika Rasulullah SAW wafat, Mu’adz masih berada di Yaman. Di masa pemerintahan Abu Bakar, Mu’adz kembali ke Madinah, dan di awal kedatangannya terjadi sebuah kisah indah penuh ukhuwah antara Muadz, Abu Bakar dan Umar bin Khaththab.
Saat Muadz datang dari Yaman, Umar tahu bahwa Mu’adz telah menjadi seorang yang kaya raya. Kekayaan pribadinya meningkat tajam dari beberapa tahun sebelumnya. Seperti biasa, ketegasan dan kewaspadaan ala Umar bin Khaththab berjalan, beliau sebagai penasehat khalifah segera mengusulkan kepada Abu Bakar agar membagi dua kekayaan Muadz dan menyerahkannya kepada negara, sebagai bentuk kehati-hatian sebagai pengelola negara. Abu Bakar tidak segera menyetujui usulan dari Umar, namun tanpa menunggu persetujuan Abu Bakar, secara pribadi Umar bersegera mendatangi Muadz untuk datang sebagai sahabat.
Mu’adz bin Jabal sebagaimana kita ketahui dalam testimoni Rasulullah SAW, adalah orang yang paham tentang halal dan haram. Termasuk halal dan haram dalam transaksi dan perdagangan. Ia tidak mengenal bertransaksi dengan unsur maysir (spekulasi), ghoror (tipuan), gheis (curang) apalagi ikhtikar (menimbun barang) dan riba. Kekayaan yang didapat pun tak lebih dari buah ketekunan dan kecerdasan, yang mendapatkan taufiq dari ar-rozzaq Allah SWT, jauh dari segala syubhat apalagi yang haram.
Maka ketika Umar datang ke rumahnya dan mengemukakan usulannya untuk membagi dua harta tersebut, Muadz pun menolak dengan argumen yang cerdas dan hujjah yang kuat. Diskusi hangat dua sahabat mulia itu pun berakhir dan Umar berpamitan meninggalkannya. Sungguh ia tidak hasad dan iri dengan kekayaan Muadz, tidak pula ia menuduh Muadz bermaksiat dengan mencari jalan haram dalam menumpuk kekayaan, namun ia hanya takut karena saat itu Islam sedang mengalami kejayaan dan kegemilangan, di luar sana banyak tokoh-tokoh yang memanfaatkan hal tersebut dengan bergelimang harta tanpa kejelasan sumber halalnya. Inilah yang ditakuti Umar, tidak lebih.
Namun uniknya, pagi-pagi sekali keesokan harinya Mu’adz bin Jabal terlihat segera bertandang ke rumah Umar. Apa yang dilakukan Muadz setelah apa yang terjadi pada hari sebelumnya? Sungguh pemandangan ukhuwah yang indah tak tergambarkan. Sampai di sana, Muadz segera merangkul Umar dan memeluknya kuat, bahkan air mata Muadz pun mengalir dan terisak menceritakan mimpinya tadi malam yang begitu kuat mengingatkannya.
“Wahai Umar, malam tadi saya bermimpi masuk kolam yang penuh dengan air, hingga saya cemas akan tenggelam. Untunglah Anda datang, dan menyelamatkan saya . . . . !”
Nampaknya mimpi tersebut membuat Muadz ingin segera menuruti usulan Umar bin Khaththab untuk membagi dua harta kekayaannya yang diperoleh dari Yaman. Maka keduanya pun segera menghadap Abu Bakar, dan Mu’adz pun mengutarakan niatnya, meminta kepada khalifah untuk mengambil seperdua hartanya.
Namun apa jawab khalifah Abu Bakar yang mulia? Khalifah yang timbangan imannya tak tertandingi oleh penghuni bumi ini menolak dengan tegas, ia mengatakan : “Tidak satupun yang akan saya ambil darimu”. Abu Bakar tahu dan yakin bahwa Muadz memperoleh kekayaan dari jalan yang baik, maka ia tidak ingin mengambil satu dirham pun dari harta sahabatnya tersebut, yang itu berarti kezhaliman dan akan berbuah kehinaan di akhirat.
Muadz belum puas dengan jawaban sang khalifah, ia pun menoleh dan meminta pendapat Umar bin Khaththab, ia teringat dengan mimpinya semalam yang begitu mendebarkan. Apa komentar Umar sebagai pihak yang mengawali usulan pembagian harta tersebut, ia berujar singkat : “ Cukup .. sekarang harta itu telah halal dan jadi harta yang baik”. Subhanallah, kegelisahan pun berakhir dengan kehangatan ukhuwah dan kemuliaan iman.
Selalu ada hikmah dalam setiap kejadian dan masalah, mari kita ambil inspirasi dan semangat dari kisah di atas yang melibatkan tiga sahabat yang mulia :
Pertama : Sosok Muadz yang cerdas dan santun. Dengan kesungguhannya ia bisa memperoleh kekayaan yang luar biasa di usia muda ( beliau meninggal usia 33 tahun di masa Umar), dari jalan yang halal dan jauh dari syubhat. Meski demikian, beliau seorang yang lembut hatinya dan perasa, sebuah mimpi di malam hari mampu membuatnya berubah dari sikap teguh pendiriannya atas usulan Umar.
Kedua : Abu Bakar memberikan contoh pada kita tentang kebijaksanaan dan kecermatan dalam berfikir. Tidak tergesa bersikap meski terlihat penuh kemaslahatan. Beliau juga tegas menolak segala tawaran dan kebijakan yang bernuansa kezhaliman.
Ketiga : Umar adalah teladan dalam sikap waro, kehati-hatian dan mawas diri, sekaligus ketegasan yang luar biasa. Dialah sosok yang terlihat angkuh di hadapan kekayaan sebagian sahabat. Para panglima perang yang bertaburkan kemenangan dan pakaian nan indah pun dihinakan oleh Umar dengan lemparan kerikil di wajah mereka. Dia adalah negarawan yang cerdas dan teliti melihat kepiawaian para aparat di bawahnya.
Tidak ada lagi kalimat yang tersisa kecuali mari segera berusaha mencontohnya.
Semoga bermanfaat dan salam optimis.
Semoga bermanfaat dan salam optimis.
sumber : Dakwatuna.com
Label:
Indahnya Islam
Subscribe to:
Posts (Atom)